Hindari link-link pornografi
Jangan melalaikan shalat wajib..
MP3 Murottal

Loading..
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. [ QS. Al-Baqarah 183 ]
Selamat memasuki
"BBM"
Bulan Berkah+Maghfirah
Tingkatkan kwalitas
"PREMIUM"
Prei Makan+Minum
Jangan lupa isi
"SOLAR"
Sholat lail dengan rajin
Serta
"MINYAK TANAH"
Memperbanyak Tadarus+Tahan Amarah
Dan jangan lupa isi
"PULSA"
Puasa Lebih Sabar
*


Puasa = Lembaga Pendidikan
Inti ajaran tauhid adalah menyeru umat islam agar selalu berorientasi kepada 4jjI SWT dalam setiap aktivitas. Bukan berarti tauhid mengajak ummat melepaskan diri dari realitas kehidupan sekitar kita. Orientasi ketuhanan dalam tauhid mempunyai korelasi positif dengan sikap kepedulian pada problem-problem sosial yang ada.

Almarhum kuntowijoyo menyebut islam sebagai agama humanisme-teosentrik; agama yang berorientasi pada Tuhan tetapi memiliki implikasi kemanusiaan. Contoh konkretnya adalah ajaran tentang puasa.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang langsung berhubungan dengan 4jjI. Dan 4jjI lah yang akan membalasnya. Kualitas puasa seseorang sangat ditentukan oleh niat dalam hatinya; kerana 4jjI atau yang lainnya.

Puasa juga mengandungi pesan keharusan umat islam meningkatkan kualitas pribadi dan menguatkan solidaritas sosial. Puasa mendidik untuk sadar atas kelemahan diri dihadapan Tuhan, kejujuran, dan kedisiplinan. Puasa juga mengajar umat untuk bersifat dermawan dan peduli pada problem-problem yang ada di lingkungan sekitar. Pada sisi inilah terletak kehumanisan ajaran puasa.

Dalam konteks indonesia saat ini, pesan yang terkandung dalam ajaran puasa menemukan relevansi. Krisis sosial, politik, ekonomi, moral, dan budaya yang sedang melanda, membutuhkan pribadi-pribadi berkualitas, lulusan "lembaga pendidikan" puasa.

Sayangnya, cita-cita seperti itu tampaknya masih sulit terwujud. Makna puasa sebagai lembaga pendidikan pribadi taqwa telah diselewengkan oleh sebagian umat dengan menjadikannya sebagai alasan untuk bermalas-malasan, berhura-hura, dan tujuan lain yang jauh dari ajaran islam.

Tak heran jika Ramadhan hanya menjadi gebyar yang akan segera hilang seiring datangnya Idul Fitri. Ketaqwaan yang ditunjukan selama Ramadhan hanya menjadi ritual tanpa makna. Masing-masing individu akan kembali pada pribadinya yang asal, tidak ada pribadi baru yang kembali fitri dalam ketaqwaan.

Maka, kita harus selalu bertanya; Sudah benarkah puasa yang kita jalankan?
Back

Sign Guestbooks


[ C ] Solution.Wen.Su
Get your Suport
Powered By
Smangat4U